Kamis, 18 Juli 2019

SITUS SELOKAJANG


Mblusuk pun terjadi lagi setelah vakum buberapa Waktu. Kali ini saya mblusuk lagi di daerah blitar tepatnya desa selokajang. Memang, sekitar 80% dokumen mblusuk sudah terkumpul sekitar tahun 2016 - 2017 lalu.
Tak lepas dari cerita rakyat tentang Desa selokajang. Sekilas cerita, bahwa dulu ada seekor ular bernama atau berjenis Puspo kajang yang melingkari sebuah arca / batu(bahasa jawanya selo). Sehingga desa tersebut dinamakan selokajang.


Puspukajang ialah Ular yang memiliki kulit loreng loreng dan sangat cantik, menariknya kulit ketika di sinari dengan senter  terkadang bercahaya unik.
Ular jenis ini bisa tumbuh dan besar sampai panjangnya lebih dari tujuh meter dan berat 80 kg. Dengan panjang yang demikian bila di tangkap atau di pegang jelas tak kuat bila hanya satu orang saja.
Ular puspokajang BISA atau racunnya tidak seganas ular weling atau kobra yang dapat mematikan ketika menggigit.  Ular ini juga memiliki tenaga sangat kuat sehingga bila melilit bisa meremukan tulang yang di lilitnya.
Meskipun termasuk binatang buas, tetapi bila di pegang dan di tangkap dengan cara lembut dan penuh perasaan, juga dapat jinak bahkan tidak meronta-ronta, namun bagi anda yang sangat takut, yaa jangan coba-coba menangkapnya.

Desa Selokajang memiliki banyak peninggalan - peninggalan artefak komponen suatu candi. Dan saya menduga, di desa ini ini dulunya adalah reruntuhan sebuah bangunan candi yang besar. Namun sayangnya sulit teridentifikasi tentang era karajaan apa dan masa pemerintahan siapa. Karena tidak ditemukan inskripsi maupun prasasti di desa ini. Meskipun ada arca yang bisa diperkirakan tentang era siapa dan masa siapa, namun saya tidak bisa memperkirakan. Karena bukan paknya juga bukan pakarnya bin masternya. Karena cuma hoby blusukan.

Beberapa komponen penyusun candi ini tersebar meluas dan merata di desa tersebut. Dan mayoritas warga juga sudah tahu tentang peninggalan batu - batu tersebut. Dengan edukasi yang saya berikan (setengah pemblawuran sejarah) akhirnya warga pun mengerti tentang betapa berharganya benda - benda tersebut. Dan bersedia menjaga benda - benda tersebut dari tangan cacat (up normal) alias panjang tangan alias maling dan paranormal sok suci.
Berikut peninggalan - peninggalan artefak yang terdapat di desa tersebut.

1. Lesung
Menurut pak adi selaku juru kunci, batu ini selalu berbunyi ketika desa ada hajatan.


2. Batu berbentuk L
Punden buto ijo, begitulah warga menyebutnya. Tepat dibarat punden ini jarak satu jengkal dulunya ditemukan struktur bangunan candi dari bata kuno yang terkenal besar. Namun sudah diuruk kembali, karena oleh sang pemilik, tanah digunakan untuk bercocok tanam.





3. Batu candi di seputaran punden mbok rondo nguri
Beberapa balok batu andesit yang tersebar. Foto hasil jepretan sang guru pribadi yaitu mas Ferry Riyandika.





4. Batu candi dan batu bata kuno di punden abu khanifah
Mbah abu khanifah dipercaya masyarakat setempat sebagai penyebar agama islam di desa selokajang. Sehingga di makamkan di desa selokajang dan di pundenkan oleh masyarakat setempat. Terdapat batu bata kuno dan balok batu andesit yang jumlahnya rumayan banyak disini. Karena tersebar luas hingga radius hampir 100 meter ke arah utara dan barat.






5. Kala, dwarapala dan antefix di halaman rumah warga
Menurut pemilik rumah yang konon katanya juga seorang resi, arca - arca ini dulunya berasal dari sawah desa tersebut.









6. Goa tumpuk
Sebuah goa yang berada di Bawah bukit kecil warga sekitar menyebutnya gunung tumpuk. Makany goa ini dinamai goa tumpuk. Lokasi goa juga berdekatan dengan aliran sungai brantas.
goa ini merupakan goa alam yg memiliki ruangan yg luas di dalam goa terdapat sebongkah batu besar dan di dinding goa terdapat beberapa ruangan kecil dan sebuah lubang kecil sebagai ventilasi udara,menurut warga goa ini katanya angker karena berdekatan dengan (bong) makam cina dan makam umum.





Cuption...
Hatimu belum hidup.
Kalau belum pernah mengalami rasa sakit. Rasa sakit karena cinta akan membuka hati, bahkan bila hati itu sekeras batu.

Kamis, 11 Juli 2019

Situs tanjungsari kota blitar



Berawal dari membenahi listrik malam hari dirumah salah seorang warga Kelurahan tanjungsari Kota blitar, saya menemukan balok batu candi dengan ukuran besar. Maklum, kerja saya dibidang kelistrikan Rayon Blitar. Dan dengan rasa penasaran, seketika itu saya langsung menanyakan asal mula batu tersebut di dapat kepada si pemilik rumah.
Setengah jam bercerita, akhirnya si pemilik bersedia mengantarkan saya melihat asal mula batu tersebut di dapatkan. Yang menurutnya dulu adalah sebuah candi besar. Karena selain balok - bolok batu tersebut, dulu banyak batu bata dengan ukuran besar juga banyak arca yang ditemukan. Selain itu ditemukan pula gerabah dan juga pusaka.



Malam itu juga saya langsung WA sang suhu pribadi mas ferry riyandika perihal situs tersebut. Tanya dan bertanya kepada beliau, dan ternyata beliau belum peenah tau tentang situs tersebut. Padahal lokasi rumah dengan situs tersebut kurang lebih hanya sekitar 3km. Dan data dari belanda baik OJO maupun KITLV tidak ada tentang situs tersebut.
Keesokan harinya sepulang kerja pukul sembilan, saya langsung menculik sang suhu guna melihat situs tersebut. Dan ditemani pula oleh sang pangeran kecil yaitu putra dari sang suhu yang bernama bhatara ammar.

Sesampainya dirumah pak imam, sedikit cerita kembali mengenai situs tersebut. Dan tak selang berapa lama bercerita, beliau menunjukkan asal mula baru tersebut.

Ternyata banyak sekali bertebaran batu bata dengan ukuran besar dan juga fragmen arca, yang dibuat ganjal pagar tetangga pak imam. Ditemukan pula sebuah lingga semu dibawah pohon beringin kecil. Menurut pak imam,batu bata tersebut diperolehnya juga dari situs tersebut.






Dan ketika melihat sebuah bangunan berdiri kokoh di atas situs tersebut kami pun shock. Sungguh sangat menyayangkan. Tapi ya bagaimana lagi kalo berhubungan dengan hak milik.





Dan dulu sewaktu benahi listrik di kelurahan bendo, saya juga menemukan sebuah arca jaladwara. Menurut  si pemilik, arca tersebut didapatkan juga dari kelurahan tanjungsari.
Jadi, sebuah banguan apakah dulunya tanjungsari ini?
Apakah pendharmaan, apakah petirtaan dan apakah pula punden berundak?
Eeeiiiits.... Jadi ingat sesuatu...
Siapa ya yang di dharmakan di tanjung?
Ayo sinau, ojo mung selfi....


Cuption.
Saat aku mencintaimu, aku terhanyut.
Denganmu pernah sudah kulewati saat-saat indah.
Tapi kebencianku padamu yang kurasakan saat ini, punya lebih banyak keindahan di dalamnya.
Beginilah caraku tuk mencintaimu.
Yaitu membencimu agar membuatmu lebih bahagia.
1 alasan kenapa aku membencimu, karena hanya orang yang terlalu, amat sangat dan paling mencintaimu, adalah yang mampu membunuhmu.

Kamis, 06 Juni 2019

Prasasti kuningan kanigoro


Setelah posting Candrasengkala masjid kuningan, langsung japrian dengan masternya master atau mbahe mbah blusuk ialah kang Widjatmiko AP via jejaring sosial. Yang menurutnya tak jauh dari lokasi situs tersebut ada situs lain. Namun beliau lupa tempatnya. Mungkin karena sudah lama atau saking banyaknya situs yang beliau kunjungi.


Setelah mendapat info tersebut, sepulang kerja saya langsung blusuk juga. Alhasil memang benar, bahwa ada sebuah situs yang menurut saya kondisinya memang sangat memprihatinkan. Yaitu dibuat alas buat naik ke rumah yang bahasa jawanya disebut (clondakan).
Menurut sipemilik batu tersebut, dulu memang ada orang yang datang kesini. Guna membaca tulisan pada batu tersebut. Serentak dengan perasaan gembreneng (dalam hati) kaget. Masa ada aksaranya?
Dengan membawa cangkul, sipemilik pun menunjukkan aksara tersebut.
Dan memang benar -benar ada untuk tulisan pada batu tersebut yang terletak pada sisi samping batu. Lebih tepatnya aksara kuadrat.


Tanpa pikir panjang, saya langsung menginfokan kepada mas ferry riyandika selaku komunitas di blitar. Dan pada bagian tepi yang beraksara saya kubur kembali.
Keesokan harinya saya dan mas ferry datang kembali ke situs tersebut, dengan mengajak komunitas lain yaitu Rendro dari D'traveler blitar dan Eko dari pokdarwis lawang wentar guna melihat, mendata dan membaca aksara di situs tersebut.


Gali dan menggali lagi pada bagian sisi samping clondakan tersebut. Saya tegaskan ini bukan INSITU. Karena kami sebagai pemerhati dan pelestari situs mengerti aturan. Dengan berbekal sikat dan kain perca yang dibawa mas ferry, akhirnya dapat terlihat jelas aksara tersebut. Saya akui memang istimewa sifat mas ferry terhadap situs.


Sayangnya aksara tersebut kuadrat, saya kesulitan membaca dan kurang memahami untuk font kuadrat. Hanya beberapa aksara dan angka tahun yang bisa. Akan tetapi dengan bantuan sang maha guru mbah GUNAWAN A. SAMBODO, aksara tersebut bisa terbaca.
Beginilah sketsa dari beliau hingga dapat terbaca. Dan sudah saya edit dengan aplikasi MOGN.


Sepulang dari situs saya diajak maen kerumah mas ferry, guna diskusi tentang situs terkait. Hasil diskusinya ternyata membuat kepala cekot - cekot. Inilah hasil diskusinya...

1. Dalam prasasti kuningan diatas yang berangka tahun 1134caka menyebut sri krtaguna padahal era pemerintahan sri srengga atau krtajaya atau dandang gendis. Jadi siapakah dia?

2. Dalam prasasti Jaring menyebut nama kretajaya yang Isinya menyebutkan peresmian sirna Jaring pada tanggal 1 1 Su-
klapaksa bulan Marggasira tahun 1103 S (=19 November 1181 M) oleh Sri Maharaja Sri Kron-
caryyadipa Handabhuwanapalaka Parakramanindita Digjayo-ttungadewanama Sri Gandra. Dalam prasasti sapu angin era raja kameswara diatas logo menyebut krtajaya, sri srenga pada prasasti kamulan juga krtajaya. Jadi siapakah krtajaya sebenarnya?

Menurut kalian siapa hayo....?
Belajarlah jangan cuma selfi.

Rabu, 05 Juni 2019

SITUS RINI


Selepas bakti situs dilingga suru, kami (saya from asta gayatri, mas ferry Riyandika from BALETAR dan eko dari POKDARWIS LAWANG WENTAR) melanjutkan bakti situs ke situs rini. Menurut mas ferry riyandika situs rini adalah sebuah prasasti. Dan memang untuk Prasasti Rini sendiri belum terbaca. Hingga saya pun semangat sekali.


Tepatnya di Dusun Bebekan, Desa Doko, Doko, Kab. Blitar. Setelah melintasi Sungai Rini, kami pun tiba diPrasasti tersebut. Berada didalam cungkup, tepat di pinggir jalan dusun. Prasasti Rini sendiri di rawat oleh komunitas masyarakat Hindu asli Blitar, yang mungkin sudah memeluk Hindu turun temurun sejak masa silam. Dan juga prasasti tersebut dikeramatkan oleh masyarakat setempat sebagai sebuah punden.


Pembacaan versi saya.


Dapat disimpulkan bahwa isi dari Prasasti rini adalah sebuah inskripsi yang merujuk pada angka tahun caka 1159, atau setara dengan 1237 masehi. Era ini adalah era kerajaan tumapel bisa dibilang singosari atau singhasari. Yang menurut pararaton dan negarakretagama adalah masa pemerintahan Bhatara Anusapati yaitu raja kedua dari kerajaan Tumapel.

Sebuah cuplikan vidio saat bakti disitus rini.

Senin, 03 Juni 2019

Jambangan satak

Masih seputaran desa satak, yang masih masuk area perkebunan afdeling sepawon. Selain Yoni dan arca parwati, setelah saya telusuri bersama agung dan anaknya,ternyata masih terdapat situs lain yaitu dua buah jambangan atau bak air.


Satu buah jambangan berada diarea perguruan silat yang berangka tahun 1279 çaka, dan satunya lagi berada disebuah hutan timurnya perguruan silat yang berjarak sekitar 500 meter dan tertulis angka 1277 çaka. Bertulis huruf jawa kuno yang menurut pembacaan saya adalah "pa ba repi gakite". Entah artinya apa, saya cari dikamus hanya kata terakhir yang sulit dipecahkan.

Jika melihat dan membaca angka tahun tersebut. 1277 dan 1279, terpaut 2 tahun. Hal ini menyimpulkan bahwa jambangan tersebut digunakan era pemerintahan Hayam Wuruk. Hayam wuruk adalah raja keempat Majapahit yang memerintah tahun 1351-1389 dengan gelar Maharaja Sri Rajasanagara.
Dalam pemerintahamnya majapahit mencapai puncak kejayaannya. Dan salah satu sastra yang paling terkenal adalah negarakretagama.


Nagarakretagama ditulis dalam bentuk kakawin (syair) Jawakuna. Tiap kakawin terdiri dari empat baris, disebut pada. Tiap barisnya terdiri dari delapan hingga 24 suku-kata, disebut matra. Naskah kakawin ini terdiri dari 98 pupuh, dibagi dalam dua bagian, yang masing-masing terdiri dari 49 pupuh. Tiap pupuh terdiri dari antara satu hingga sepuluh pada. Dilihat dari sudut isinya pembagian pupuh-pupuh ini sudah dilakukan dengan sangat rapi. Berikut cuplikan kakawin negarakretagama pupuh 62 yang menurut saya, melintasi daerah satak ini.



Keberadaan bak/jambangan air ini memiliki nilai penting yang dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat di satak pada masa lalu khususnya masa klasik (Hindu-Budha).
Jambangan atau bak air ini merupakan wadah terbuka yang berfungsi untuk tempat penampungan air, kemungkinan merupakan sarana untuk kegiatan upacara keagamaan dimasa itu.

Berikut cuplikan vidio tentang situs tetsebut.