Tak disangka, ternyata salah satu kelurahan dikota blitar memiliki peninggalan era klasik yang sangat amazing. Sebagian situs sebetulnya sudah saya blusuki sekitar tiga tahunan lalu. Namun setelah mendengar cerita dari salah satu teman di blitar yang bernama LIAN. akhirnya blusuk lagi di seputaran kelurahan karang tengah kota blitar.
1. Prasasti karangtengah
Berikut tulisan Prasasti Karangtengah yang sudah saya tulis kembali berdasarkan diakritik pembacaan pada prasasti tersebut.
Yang jelas penulisan ini juga sudah dikoreksi guru jawa kuno pribadi saya, yaitu kang ady portnoy.
2. Fragmen arca ganesha
Tak jauh dari penemuan prasasti karang tengah, juga terdapat fragmen arca ganesha. Saya sebut fragmen, karena kepalanya hilang. Menurut cerita para pamong, arca ini mengalami vandalisme waktu itu.
3. Fragmen arca harihara
Berada di belakang yonif 511 terdapat sekumpulan fragmen arca yang dipundenkan. Menurut saya pribadi, ini adalah fragmen arca harihara. Karena bagian bawah hampir mirip dengan arca harihara di musnas yang berasal dari simping, dan merupakan perwujudan dari Raden wijaya.
4. Fragmen arca dewi
Terus terang untuk arca ini belum begitu paham. Entah arca perwujudan ataukah dewa lokal layaknya dewi sri, bima dan sang hyang acalapati.
5. Struktur candi
Menurut Lian, dulunya sawah ini full batu bata merah yang ukurannya besar - besar. Bahkan membentuk sebuah gundukan. Nah... Jangan - jangan sebuah candi.?
Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengungkapnya, karena masih insitu. Dan bukan wewenang kami selaku komunitas.
Itulah peninggalan - peninggalan sejarah era klasik di kelurahan karangtengah kota blitar. Cuption...
Dari begitu banyak sahabatku...
Aku tak menemukan sahabat yang paling baik daripada menjaga lidah.
Disakiti dan terluka oleh lidah bekasnya lebih dalam dan susah hilang dibandingkan luka oleh pedang.
Jika pedang melukai tubuh, ada harapan akan sembuh.
Jika lidah melukai hati, ke mana obat akan dicari.?
Barawal dari rasa penasaran tentang jobong sumur, waktu melihat suatu berita temuan di medsos. Pada akhirnya, muncul pertanyaanku kepada temen - temen komunitas sejarah tentang keberadaan jobong sumur di plat AG. Dan blusuk pun kumulai. Sekitar setengah harian (kalau gak salah) blusuk di kecamatan kandat, akhirnya kutemukan juga sebuah jobong sumur.
Pada masa klasik, air bersih diperoleh dengan cara menggali tanah untuk membuat sumur. Bagian tepian sumur diberi penguat yang dibuat dari struktur bata dan tembikar ada juga yang terbuat dari batu sehingga disebut dengan istilah jobong. Kadang-kadang di sekitar permukaan sumur diberi lantai dan saluran air yang terbuka dan ada juga yang tertutup.
Setelah tanah digali sampai kedalaman air tanah yang layak minum, kemudian masing-masing jobong diturunkan satu demi satu menumpuk sampai ke permukaan sumur. Bagian yang garis tengahnya lebih besar terletak di bawah, menutupi bagian yang garis tengahnya lebih kecil.
Selain berfungsi untuk keperluan sehari-hari, air sumur berfungsi juga untuk upacara keagamaan dan pertanian dalam skala yang kecil (misalnya untuk menyirami tanaman ketika kemarau).
Menariknya pada jobong tersebut ada inskripsi yang bertuliskan angka tahun caka yaitu 1112 caka, atau setara dengan 1190 masehi. Jelas pada tahun tersebut adalah era kerajaan kediri. Namun untuk pemegang kekuasaan belum jelas. Karena suasana didalam kerajaan itu sendiri begitu mencekam. Penyebabnya yang pasti adalah perebutan pemegang hak kekuasan.
Untuk lebih jelasnya simak penjelasan mas SIWI SANG berikut ini.
Berdasarkan Prasasti Ceker, yaitu Pada 11 September 1185M. Yang menjabat sebagai raja panjalu adalah Sri Maharaja Kameswara Triwikramawatara Aniwariwirya Parakrama Digjaya Uttunggadewa.
Namun setelah Kameswara wafat. Tahta Panjalu Daha ditempati oleh adiknya yaitu Kertajaya yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa.
Setara pada angka tahun di jobong sumur diatas, yaitu 1190 masehi.
Terbit prasasti bertanda lanchana raja Srengga. Prasasti batu ini dikenal sebagai Prasasti Sapu Angin. Namun seperti yang kita ketahui, bahwa lenchana pada prasasti tersebut sangatlah beda dari lenchana - lenchana prasasti setelahnya. Menurut penelitian sejarah dari Boechari bahwa saat mengeluarkan prasasti Sapu Angin, Raja Srengga Kertajaya masih bersetatus sebagai putra mahkota.
Naiknya Kertajaya sebagai maharaja Panjalu Kediri rupanya membuat suasana tanah Jawa kembali bergolak. Penyebabnya karena Kertajaya bukan putra mahkota Kameswara. Ketika Kameswara wafat, seharusnya yang mendaki tahta di Panjalu Kadiri adalah keturunan Kameswara dari Sasi Kirana.
Itu artinya cucu raja Jenggala yang berhak naik tahta Panjalu Kadiri. Bukannya Kertajaya, adik Kameswara. Inilah yang memicu kemarahan pihak Jenggala di Kutaraja lalu menggempur Panjalu Kadiri.
Raja Jenggala waktu itu adalah Sri Maharaja Girindra, ayah Sasi Kirana. Sri Maharaja Girindra juga memiliki putra selir yang dikenal Pararaton sebagai Ken Arok.
Pasukan Girindra Jenggala berhasil mendesak kekuatan Panjalu Kadiri. Raja Kertajaya mengungsi bersama pasukan pimpinan Senapati Tunggul Ametung menuju Katandan Sakapat Kalangbrat, Tulungagung. Secara tersirat peristiwa ini termuat dalam Prasasti Kamulan, 31 Agustus 1194M atau bulan Palguna, ketujuh, tahun saka 1116. Disebutkan dalam prasasti bahwa raja Kertajaya tersingkir dari istana Kadiri akibat serbuan musuh dari arah timur. Penyerbuan terjadi sebelum keluarnya Prasasti Kamulan.
Selama dalam pengungsian, Kertajaya menjadikan daerah Kalangbrat sebagai keraton sementara Panjalu. Bersama sisa pasukan dan para pandita serta segenap penduduk Katandan Sakapat Kalangbret, Senopati Tunggul Ametung giat menggalang kekuatan merencanakan serangan balik.
Mblusuk tipis - tipis di kecamatan plemahan. Ternyata terdapat peninggalan era masa klasik, yaitu sebuah gentong, batu candi dan sebuah yoni yang masih utuh.
1. GENTONG
Sebuah gentong yang digunakan sebagai punden desa, kalau tidak salah namanya mbah genuk. Sangat terawat dan sering dikunjungi peziarah. Yang menarik pada gentong ini adalah memiliki tulisan aksara kuadrat. Menurut pembacaan pribadi bertuliskan temen yang di kamus jawa kuno bila diartikan memiliki arti jujur, benar dan bersungguh - sungguh.
Jika diamati dengan seksama, Gentong ini terbuat dari batu. Kalau sekarang terbuat dari tanah liat yang dibakar hingga berubah warna menjadi cokelat muda atau cokelat tua. Gentong umumnya berbentuk bulat dan sering digunakan sebagai wadah untuk menyimpan air.
Teringat cerita dari temen komunitas segaligus ketua komunitas PASAK dari kediri kang Novi BMW
Genthong di masa klasik banyak ditempatkan didepan rumah rumah warga, juga dipinggir jalan.
Bertujuan untuk shodakoh atau sedekah air untuk pedagang jarak jauh, para musafir dll.
2. BATU CANDI
Dan ternyata setelah diblusuki lebih dalam, banyak sekali bertebaran batu berbentuk balok dan kotak penyusun candi. Sangat dimungkinkan daerah ini dulunya adalah banyunan yang besar. Karena data belanda juga menyebutkan bahwa di daerah sini ditemukan banyak arca. Memang sebagian arca dapat ditemukan. Namun sengaja tidak saya posting karena foto blur semua. Mungkin si arca masih menunjukkan kesaktiannya... He..he..he...
3.YONI
Ketika mau pulang, tatapanku dikejutkan oleh sebuah batu. Dan memang amazing. Ternyata ada yoni yang masih utuh. Yaitu bagian ceratnya tidak patah alias lolos dari peristiwa vandalisme.
Demikian perjalanan saya. Nantikan blusukan selanjutnya.
Cuption....
Cinta ada karena melalui serangkaian proses.
Perkenalan, adaptasi, kesamaan selera, kebersamaan melewati berbagai ujian, yang kesemuanya mensyaratkan tahapan2 dan waktu.
Akan tetapi cinta itu TIDAK selalu melekat pada kebersamaan, TAPI melekat pada doa-doa yang kita sebutkan dalam senyap.
Dan jangan menghukum kebersamaan dengan kesendirian.
Karena kita tidak memutuskan bersama hanya karena bosan dengan sendiri.
Tanpa direncana dan tanpa disengaja, hari itu saya blusuk di dampingi para senior saya. Serasa didampingi para dewa dan para penjabat petinggi negara. Ialah kang heyu selaku ketua asta gayatri, pak fuad selaku sekretaris dan maha guru jawa kuno pribadi saya yaitu kang ady.
Blusuk disalah satu desa di kecamatan ngunut, yaitu desa sumberjo kulon.
Terdapat komponen - komponen penyusun suatu bangunan di era klasik dan tersebar di berbagai sudut desa ini.
1. Fragmen arca wisnu
Ditemukan saat menggali sebuah kolam. Menurut saya arca ini adalah fragmen arca wisnu. Dengan ciri - ciri, arca tokoh laki - lagi dengan memakai kalung. Berikut deskripsi tentang arca dewa wisnu yang saya culik dari buku temen salah satu jupel candi di tulungagung tapi lupa judulnya.
Wisnu adalah salah satu Dewa Trimurti berkedudukan sebagai dewa pemelihara. Diceritakan bahwa pada waktu melawan Vitra, raksasa yang menguasai kekeringan ia menang sehingga kemudian Dewa Wisnu disembah sebagai atau memelihara dunia.
Dewa Wisnu biasanya digambarkan bertangan empat, masing-masing membawa sankha lambang pembebasan manusia dari kesulitan, cakra lambang perputaran dunia, gada lambang kekuatan dan padma lambang kebebasan.
Arca Wisnu biasanya digambarkan dalam sikap berdiri di atas lapik berbentuk bulat telur. Memakai mahkota dan di belakang kepala terdapat prabha. Arca dan prabha dipahatkan menjadi satu dengan stella. Rambut terurai panjang sampai padan kanan dan kiri bahu. Mempunyai empat tangan dengan kedua tangan depan diletakkan di depan perut, tangan kiri belakang memegang siput (sankha) dan tangan kanan belakang memegang padma susun. Telinga memakai anting (kundala) dan leher memakai kalung (hara) serta memakai tali kasta (upawita). Di bagian kanan dan kiri stella terdapat teratai yang keluar dari pot bunga serta kuncup.
2. Batu bata kuno
Menurut info, batu bata kuno nan besar besar ini ditemukan juga waktu menggali kolam. Sebenarnya masih banyak batu bata disekitar kolam tersebut, namun sengaja dikubur kembali dikarenakan pemilik tidak mau tanahnya di eskavasi. Kuat dugaan bahwa tanah ini dulunya adalah sebuah bangunan candi.
3. Ambang pintu
Teronggok di pinggir jalan, siapa yang menduga kalau ini adalah sebuah ambang pintu. Saya pun begitu, awal mula juga tidak menduga dan tidak percaya kalau ini sebuah ambang pintu. Namun setelah dijelaskan oleh pak fuad, saya pun bisa menerima.
4. Ambang pintu berinskripsi
Dan di sisi sebelah timur Desa Sumberjo kulon. Juga terdapat ambang pintu berinskripsi yang dulu sudah saya kunjungi dengan adik saya, dan sudah saya posting lewat facebook. Dan juga sudah saya buat juga vidio dokumenternya di youtube. Inskripsi pada batu ini berangka tahun 1291caka atau 1369 masehi. Yaitu era majapahit masa pemerintahan HAYAM WURUK.
Hayam Wuruk adalah raja keempat Kerajaan Majapahit yang memerintah tahun 1350-1389, bergelar Maharaja Sri Rajasanagara.
Tahun 1389, Hayam Wuruk meninggal dengan dua anak: Kusumawardhani (yang bersuami Wikramawardhana), serta Wirabhumi yang merupakan anak dari selirnya. Namun yang menjadi pengganti Hayam Wuruk adalah menantunya, Wikramawardhana.
Vidio dokumenter inskripsi pada situs sumberjo kulon.
5. Fragmen arca ganesha
Dan disisi sebelah selatan Desa Sumberjo kulon, juga masih ada peninggalan era klasik. Yaitu berupa sebuah umpak dan fragmen arca ganesha. Info dari warga sekitar, dulu banyak sekali arca disini. Namun sudah di bawa oleh paranormal setempat. Entah sekarang arca - arca tersebut masih ada apa tidak. Permasalahannya paranormal tersebut juga sangat tertutup.
Itulah peninggalan - peninggalan era klasik di Desa sumberjo kulon Kecamatan ngunut. Nantikan postingan selanjutnya.
Cuption...
#menulis
Pada akhirnya menulis adalah menolong jiwa penulisnya sendiri dan menemukan apa yang terpendam dalam dirinya.
Sesuatu yang mungkin pernah ada namun telah menghilang karena waktu atau sesuatu yang telah lama ada namun tidak pernah dibangunkan.
Suatu malam ketika suasana hening, sengaja ku bermawas diri, aku baru mengerti bahwa.
Aku menulis untuk #MENANGKAP kenangan yang mungkin tak akan mampu tersimpan dalam memori OTAKKU.
Sebelum diriku nanti usang dan menghilang.
Karena pada kenyataannya....
Ketika keahlian tidak digunakan dalam jangka waktu yang sama, dia bisa menghilang juga.
Eh...Bukan menghilang mungkin, lebih tepat jika disebut terkubur.