Rabu, 18 Desember 2019

Situs Pojok Kota Kediri


Blusuk tipis - tipis bersama mas yudi pasak.
Diajak ke punden mbah mlokosari. Di punden ini, terdapat batu bata kuno yang besar - besar. Bisa diperkirakan, bahwa era kedirian. Apalagi dengan terdapatnya ambang pintu, bisa diperkirakan wilayah ini adalah reruntuhan suatu bangunan di era klasik. Entah itu pemukiman, punden ataukah candi. Dan reruntuhan tersebut sekarang difungsikan sebagai punden dengan tersusun beberapa makam. Perlu riset dan blusuk lebih ekstra. Karena lokasi berdekatan dengan wisata gunung klotok, yang terdapat banyak sekali puing - puing reruntuhan bangunan era klasik.






Bergeser ketimur juga masih terdapat sebuah punden. Entah punden apa, saya lupa namanya. Di area punden ini juga terdapat selebaran batu batu kuno yang ukurannya sama seperti di punden mbah mlokosari. Menariknya disini terdapat dua buah lingga yang dipernisankan. Dapat disimpulkan bahwa corak agama waktu itu adalah hindu.






Cuption


Selasa, 17 Desember 2019

Situs butuh


Terdapat satu bagian candi yang dipundenkan oleh warga setempat. Yaitu sebuah tangga. Mengingat fungsi tangga yang begitu penting dalam menghubungkan satu lantai dengan lantai yang lain, pernahkah kita berfikir sejak kapan tangga diterapkan pada sebuah bangunan?
Menurut buku yang saya baca,  tangga telah ada dan digunakan oleh orang-orang jaman dahulu, bahkan pada masa sebelum Masehi. Keberadaan tangga sendiri ditemui hampir di seluruh kebudayaan di dunia, entah itu kebudayaan Eropa, Afrika, bahkan Asia, termasuk Indonesia.
Berdasarkan penelitian dari sejarawan dan arkeolog, tangga tertua yang pernah dibuat di muka bumi ini ditemukan di Sicily. Tangga ini diperkirakan berusia 480 SM dan menjadi salah satu bagian pada candi dalam peradaban Yunani.
Menurut buku itu, bahwa membangun tangga pun tak bisa sembarangan. Seorang arsitek jaman dulu, dalam membangun sebuah bangunan kerap memberikan fokus utama pada pembangunan sebuah tangga. Bahkan penempatan lokasi, jarak antara anak tangga, serta tingginya pun mengandung makna tersendiri.


Dan bila disini terdapat sebuah tangga, bisa dimungkinkan wilayah ini dulunya ada sebuah bangunan era klasik. Karena menurut pemilik lahan, batu ini sudah ada sejak kakek buyutnya. Beliau hanya disuruh merawat dan memjaganya.


Tak jauh dari situs diatas, terdapat sebuah punden. Warga sekitar menyebutnya Punden mbah bol atau bol mbutuh atau Monas Jawa. Dan ternyata waw…  sebuah bangunan peninggalan era kolonial berbentuk Cerobong Asap. Dan menurut warga sekitar pula, disini pernah ada atau pernah difungsikan sebagai Pabrik Gula pada masa Kolonial Belanda. Dan yang jelas bangunan ini dibangun pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1800-an.


Dan kemungkinan, bangunan ini diarsisteki oleh orang Belanda dan dikerjakan oleh penduduk Indonesia.  Dalam buku sejarah SD ku dulu, kerja paksa saat pemerintahan belanda banyak menelan korban jiwa. Mungkin karena kelaparan, disiksa, atau jatuh dari bangunan ini. Pabrik Gula ini hancur pada masa pertempuran antara Belanda dengan warga pribumi.
Berita yang beredar, Monas Jawa ini merupakan cerobong asap pabrik gula peninggalan Belanda yang tertinggi di Pulau Jawa.
Jika tidak percaya, monggo blusuki.



Cuption


Senin, 16 Desember 2019

Situs tuliskriyo


Desa tuliskriyo kecamatan sanan kulon blitar. Jika diflash back, ternyata tidak pernah sepi peradaban. Dari era kediri sampai singhasari (tumapel). Menurut saya pribadi, penyebab utamanya adalah salah satu desa di tepi sungai brantas. Berikut adalah bukti peninggalan - peninggalan era klasik yang saya maksud tidak sepi peradaban.

1. Fragmen arca dwarapala
Berada di pinggiran pematang sawah, warga sekitar menyebutnya punden mbah susur. Karena wujudnya seperti orang nyusur. Usut punya usut ketika para petani di sawah tersebut mengadakan upacara tanam padi, saya melakukan tanya jawab. Alhasil, menurut salah seorang petani dulunya punden ini adalah sebuah arca memegang gada dan beberapa lumpang besar. Lalu terjadi vandalisme, hingga akhirnya agar punden tersebut tetap ada. Warga mengambil potongan - potongan batu tadi dan disemen. Dan pada akhirnya diberi nama mbah susur. Karena salah satu batu bentuknya laksana orang nyusur.


2. Inskripsi era kediri



Terdapat sebuah inskripsi di kantor desa tuliskriyo dengan kondisi disemen. Inskripsi tersebut menunjukkan angka tahun 1124 Saka (1202 M) yang menurut sejarah menunjukkan masa pemerintahan Raja Kertajaya, raja terakhir Kerajaan Kadiri.
Menurut info pak kamituwo (kades) dahulunya Inskripsi ini berada di bawah pohon raksasa di belakang kantor desa ini, namun karena sempat mengalami vandalisme (perusakan), kini inskripsi ini disimpan dan diamankan di halaman Kantor Desa Tuliskriyo. Monggo kalau mau blusukan dan belajar mengenal huruf jawa kuno, silahkan berkunjung kesini.






3. Arca Ganesa Boro


Sebenarnya sering saya kesini, namun ada satu moment yang harus saya abadikan via blog ini. Karena ada teman yang jauh - jauh dari tuban bernama tegoeh fatchurosi (epigraf muda), datang ke blitar untuk menemui saya. Dan itu pun pertama kali saya jumpa dan blusuk bersama dia.
Nanti bisa buat cerita anak cucu saya. Dengan catatan jika saya masih diberikan umur panjang.



Tak perlu berpanjang lebar membahas tentang arca yang satu ini. Pertama semua sudah banyak yang tahu. Kedua sudah banyak yang memposting tentang arca ini. Yang jelas bagibsaya pribadi, arca ini terlalu amat dan sangat waw.  Karena pada bagian depannya terpahat wujud Ganesha seperti umumnya, namun bagian belakang terpahat Mahakala yang menyeramkan. Bahasa inggrisnya two in one. Two diartikan 2 wajah. One diartikan 1 arca. Dua wajah dalam satu arca.
Dan yang jelas arca ini era tumapel. Karena pada sisi lapik arca ini terpahatkan sengkalan yang berbunyi hana gana hana bhumi. Jika ditulis menjadi 1611 dan dibaca 1161 Saka atau 1239 Masehi.



Cuption

Minggu, 15 Desember 2019

Situs karangtengah kandangan


Ketika mau balik ke mojokerto menghadiri jambore, saya tersesat gaes. Gara - gara akses jalan ditutup karena ada hajatan, akhirnya aktivitas pengguna jalan dialihkan. Saya bingung mau lewat mana, tapi saya putuskan untuk tetap melanjutkan berkendara. Dan ketika melewati sebuah desa di kandangan, mata saya tertuju kepada suatu benda. Awalnya ada keraguan tentang benda tersebut. Namun setelah saya dekati,  ternyata sebuah miniatur candi yang waw...  Masih sangat lengkap gaes.



Miniatur candi merupakan sebuah replika candi dalam bentuk kecil. Sama halnya seperti candi dalam bentuknya yang asli, miniatur candi ini juga digunakan sebagai artefak religi terutama untuk memuja dewa atau roh dari raja dan leluhur yang telah meninggal (Linus, 1974: 17).
Berbeda dengan candi yang merupakan bangunan tetap dan digunakan sebagai sarana peribadatan bersama, miniatur candi mungkin digunakan dalam skala penggunaan
yang lebih kecil sehingga para arkeolog kemudian berpendapat bahwa miniatur candi adalah chala (Mantra, 1963, Surasmi, 1984).

Chala merupakan media ritual baik arca atau dalam bentuk lainnya yang sifatnya dapat dipindahkan karena ukurannya yang kecil. Konsep ini memiliki kesamaan dengan konsep artefak dalam istilah arkeologi umum hanya saja chala dalam hal ini merujuk pada istilah ikonografi. Selain chala terdapat pula media ritual lain dalam ukuran sedang (chalachala) dan ukuran besar sehingga tidak dapat dipindahkan (achala). Dari sisi fungsional dan mobilitasnya, chala digunakan sebagai sarana ritual perorangan atau kelompok kecil sebagai simbol dewa pujaan pribadi (istadewata), sedangkan chalachala dan achala digunakan oleh kelompok yang lebih luas (Patnaik, 2011: 26; Rao, 1914: 17).


Menurut master widjatmiko AP, miniatur candi adalah replika gunung juga. Makanya kebanyakan atap miniatur candi berbentuk meru (bagian atap bertingkat tingkat), di jawa tengah jg banyak terutama di daerah wonosobo, temamanggung, sebagian semarang dan boyolali.

(sumber : wiki)
Menara meru tiga tingkat seperti miniatur ini, biasanya didedikasikan untuk leluhur yang didewakan.


Berawal dari penasaran, akhirnya blusuk lagi di daerah ini bersama ichal. Terdapat struktur batu bata kuno serta fragmen yoni di makam umum. Dinamakan fragmen karena wujudnya tak utuh. Tidak begitu banyak info tentang ODCB ini.
Tp jika ditanya era, ini adalah era majapahit. Mengacu pada ukuran batu batanya.









Cuption


Sabtu, 14 Desember 2019

Situs sumberejo ngasem


Pernah dengar gak tentang dadapan?
Bagi lelaki yang suka jajan pasti tidak asing dengan nama tersebut.
Tak perlu diceritakan ada apa disana. Fokuslah dengan kata (lelaki yang suka jajan). Berada di kawasan simpang lima gumul kediri, ternyata terdapat sebuah peninggalan era klasik.
Ialah sebuah kemuncak, sebuah umpak dan dua buah lumpang pemujaan dengan kondisi terbalik.


Sebenarnya kemuncak ini berada disebuah area makam. Entah itu makam keluarga atau sebuah punden, saya sendiri tidak tahu. Kurangnya informasi dan waktu itu tidak ada satu orang pun warga sekitar untuk ditanyai. Lagi pula waktu itu tidak terfikirkan buat blusukan. Hanya kebetulan lewat dan entah kenapa ketika saya melihat makam tersebut, saya langsung berhenti.
Apakah itu yang dinamakan sinyal?
Apakah itu yang dinamakan frekuensi?
Semua kembali kepada interpretasi.


Menurut ahlinya...
Kemuncak adalah komponen Bagian Candi yang terdapat pada atap bagian atas candi yang biasanya mengelilingi puncak beentuknya seperti menara-menara kecil.
Rangkaian atap yang di sebut dengan Svarloka dunia para Dewa Dewi.
Fungsi kemuncak hanya sebagai hiasan atap Candi dan tidak mewakili fungsi teretentu.
Kemuncak dalam istilah Hindu kuno di sebutkan dengan Ratna, Kalau dalam istilah Buddha di sebut dengan Stupa.



Dan letak kemuncak tidak harus di bangunan utama candi. Bisa di candi perwara, di gapura, di pagar dan juga petirtaan
Candi perwara adalah Candi kecil yang menjadi pelengkap sebuah kompleks percandian.
Sedangkan candi utama dalam kompleks itu dinamakan candi induk.


Umpak dibawah kemuncak


Lumpang

Nah... Dapat disimpulkan bahwa, kemuncak  yang berada di sini memiliki nilai histories sejarah sebagai salah satu bukti adanya aktivitas masyarakat masa lalu di daerah ini.
Kemuncak yang berada di sini merupakan sebuah karya seni yang memiliki nilai seni 
yaitu sebagai ekspresi keindahan seniman di masa lampau.
Dan semoga dengan adanya kemuncak disini,  dapat menjadi inspirasi karya seni masa kini maupun masa yang akan datang.
Rahayu mulyaning jagad.